Dr Hiroka Nakayama, peneliti dari Sacred Heart University di Tokyo, mengatakan bayi yang paling muda lebih sering menangis untuk menarik perhatian ibunya.
Namun, banyak orang yang memberikan pandangan negatif terhadap tangisan ‘pura-pura’ tersebut, Dr Nakayama percaya itu akan memberikan dampak negatif terhadap hubungan orangtua dengan anak.
Dia mengatakan, tangisan ‘pura-pura’ berguna untuk berkomunikasi ‘memberikan kontribusi yang baik, tidak hanya dalam pertumbuhannya tapi juga perkembangan emosionalnya.”
“Bayi yang memiliki kemampuan menangis ‘pura-pura’ mungkin dapat berkomunikasi secara baik dengan yang mengurusnya. Tangisan ‘pura-pura’ dapat menambah hubungan mereka menjadi lebih dekat,” tambahnya.
Anak-anak diobservasi selama 2 jam dalam 1 bulan dengan kamera video. Anak paling kecil menangis 68 kali dan yang paling besar menangis 34 kali.
Studi tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Infant Behaviour and Development, mempelajari emosi positif atau negative dalam sebuah kejadian, segera setelah atau sebelum bayi berhenti menangis.
Emosi negatif didefinisikan “jika bayi mengalami keadaan yang tidak baik” lalu emosi positif didefinisikan “jika bayi dalam keadaan baik.”
Perilaku positif diobservasi bahkan sebelum bayi menangis dan juga setelah menangis. Cara menangis tersebut diintifikasi oleh ibu sebagai “tangisan pura-pura” atau “kemunculan tangisan palsu”.
Misalnya ketika anak paling kecil bermain bersama ibunya, ketika ibu meninggalkan bayinya sebentar, bayi menangis untuk menarik perhatian ibunya. Ketika ibunya muncul dan kembayi, bayi kembali tersenyum.
Tangisan ‘pura-pura’ mudah untuk ditebak, menurut peneliti. Peneliti juga mencatat bahwa bayi yang memiliki saudara lebih sering memamerkan tangisan ‘pura-pura’ nya dibandingkan bayi yang tidak memiliki saudara.(*)
Sumber: Harian Jambi
No comments:
Post a Comment