Bank Indonesia Perwakilan Jambi,
Minggu, merilis data jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank
umum di Jambi sebesar Rp19,42 triliun. Angka ini turun 0,54 persen atau sebesar
Rp105,96 miliar dari triwulan sebelumnya yang mencapai Rp19,52 triliun.
Penurunan ini disebut seiring dengan menurunnya simpanan berjangka sebesar
18,65 persen dan dan giro sebesar 10,62 persen.
Lantas, siapa saja yang menyimpan
uang dalam jumlah besar itu? Menurut Kepala Unit Komunikasi dan Koordinasi
Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Ihsan W. Prabawa, peningkatan
Dana Pihak Ketiga yang disetor ke sejumlah bank itu terutama dilakukan oleh
perseorangan, bukan lembaga keuangan. DPK perseorangan meningkat Rp1.527 miliar
dalam tahun 2013 menjadi Rp14.452,21 miliar atau meningkat sebanyak 11,81
persen.
Peningkatan jumlah masyarakat yang
menghimpun dananya di bank-bank umum terjadi hampir merata di seluruh kabupaten
di Provinsi Jambi, kecuali Batanghari dan Tanjung Jabung Barat. Namun,
pertumbuhan tahunan yang paling besar terjadi di Kabupaten Sarolangun yang mencapai
Rp148,50 miliar atau 83,77 persen dari keseluruhan DPK dan Kabupaten Tebo yang
mencapai Rp84,86 miliar atau 53,44 persen.
Meski simpanan masyarakat di dua
kabupaten itu mengalami peningkatan, namun jumlah DPK di bank yang paling besar
masih terdapat di Kota Jambi sebesar Rp13,67 triliun dan diikuti oleh Bungo
sebesar Rp1,42 triliun.
Lalu, apa motivasi masyarakat
menyimpan uang dalam jumlah besar di bank? Menurut Bank Indonesia Jambi,
meningkatnya jumlah simpanan dan jumlah nasabah di bank, salah satunya karena
meningkatnya suku bunga simpanan yang mengikuti kenaikan BI-rate.
Namun, jika Dana Pihak Ketiga dalam
bentuk deposito dan tabungan mengalami peningkatan, tidak demikian halnya pada
giro. DPK dalam bentuk giro justru mengalami penurunan sebesar 11,14 persen
(yoy), sejalan dengan tingginya realisasi Anggaran Penerimaan dan Belanja
Daerah (APBD) pada tahun 2013.(*)
Sumber: Harian Jambi
No comments:
Post a Comment